RINGKASAN KAJIAN HARI 16 - Kitab Ayyuhal Walad

RINGKASAN KAJIAN HARI 16 Kitab "Ayyuhal Walad"
Oleh : KH.Muhammad Shoffar Mawardi Ma'had Daarul Muwahhid

Kalau memang berdebat dalam upaya kita menampakan kebearan secara tulus ikhlas dimungkinkan bisa dan tidak menyia-nyiakan kebenaran itu boleh dibahas
tapi kalau benar-benar itu maksudnya,
ada dua alamat/tanda-tandanya,

- Satu dari dua alamat tersebut yaitu kamu tidak membedakan diantara bahwa kebenaran itu terlihat, tersingkap dan terbuka atas lisanmu atau lisan selain dirimu yang penting pembicaran/perdebatan/tukar fikiran menghasilkan kebenaran.
maksudnya,
Mau kebenaran itu kita yang beruntung bisa mengungkap ataukah orang lain yang mengungkap, sama-sama mengucap Alhamdulillaah.

Dalam suatu riwayat Imam Syafi'i menyatakan,
bahwa dalam keyakinan dan kebenaran itu prinsipnya adalah,

رأيي صواب ويحتمل الخطأ ورأي غيري خطأ يحتمل الصواب

“Pendapat kita benar, tapi mungkin mengandung kesalahan. Dan pendapat orsng lain itu salah, tapi mungkin mengandung kebenaran”.

sementara belum terungkap satu fakta baru kita berpegangan pada keyakinan awal, harus yakin bahwa pendapat kita benar.
Tetapi ketika nanti diadakan kajian lebih lanjut, ternyata orang lain benar/lebih benae ya kita harus legowo/menerimanya.

Imam Syafi'i juga punya prinsip setelah melakukan istimbad hukum berdasar Al Qur'an dan Hadits yang telah beliau kuasai, beliau mengatakan,
"Kalau ada yag bisa menunjukan dalil yang shahih/lebih shahih maka itulah madzhab beliau".

- Alamat kedua yaitu bahwa pembahasan/diskusi/debat itu dilakukan di ruang kosong tanpa ada yang melihat, itu lebih kau suka daripada pembahasan dilakukan di ruang terbuka/di kumpulan orang/dei depan umum apalagi debat terbuka yang disiarkan langsung ke seluruh dunia.

Seperti Nasehat Muallim Syafi'i Hadzami,
"Kalau masuk wilayah dunia ilmu itu jangan suka keheranan/kagetan,
orang ngomong itu bebas, silahkan punya pendapat apapun walaupun yang aneh sekalipun.
Tapi kalau mau diterima pendapatnya oleh orang lain/publik, tunjukan dulu dalilnya".

Selanjutnya Imam Al Ghazali mengingatkan kita,

Dengarkanlah,
Sesungguhnya aku akan menyebutkan padamu disini satu faedah,
Sesungguhnya pertanyaan tentang perkara yang muskilat/samar/tidak jelas/sulit itu sama saja memperlihatkan penyakit hati kepada Tabib.

maksudnya,
orang yang suka bertanya pertanyaan yang sulit yang kadang sifatnya menjebak atau menguji yang ditanya,
sebetulnya dia orang yang sedang pamer penyakit hati.
dia sedang tunjukan kepada dokter/tabibnya tentang penyakitnya itu.
Sedangkan jawaban untuknya adalah suatu usaha untuk memperbaiki sakitnya itu.

Dan ketahuilah,
Orang-orang yang jahil/bodoh itu adalah orang yang sakit hatinya, sedangkan ulama/orang 'Alim itu adalah Para Tabibnya.

Sedangkan orang Alim yang berilmu yang masih kurang/belum genap ilmunya itu tidak membaikan pengobatan.

maksudnya,
Sudah terlanjur disebut orang alim padahal belum genap ilmunya,
justru bukan mengobati oenyakit malah menambah penyakitnya itu menular kemana-mana.
Seperti yang disebutkan oleh Kyai Zaenuddin Cikampek dalam sebuah kitab disebutkan,
"Masyarakat ini rusak karena pemimpinya, dan rusaknya para pemimpin disebabkan karena rusaknya ulama/orang-orang alim"
karena ulamanya malah mencari muka dihadapan pemimpin/umaro.

Sedang Orang 'Alim yang sempurna beliau tidak akan mengobati semua orang sakit,
akan tetapi beliau akan mengobati orang yang memang beliau berharap orang tersebut menerima pengobatan dan perbaikan,
apabila penyakitnya itu berupa penyakit cacat badan atau mandul atau sejenisnya yang tidak menerima pengobatan/tidak bisa diobati,
maka kecerdasan seorang tabib di dalam permasalahan seperti ini adalah bahwa dia akan mengatakan,
"Penyakit ini gidak menerima pengobatan/tidak bisa diobati dengan cara apapun tidak akan sembuh/menjadi lebih baik,
maka sebaiknya tidak usah sibuk dalam masalah ini dengan berobat.
karena sesungguhnya sibuk mengobati suatu penyakit yang tidak bisa diobati itu sama saja menyia-nyiakan umur.
Tetapi sebaiknya dengan sibukkan diri menambah syukur dan sabar, menambah ibadah dan bertaqarrub kepada Allah.
karena bsgitu banyak orang yang sudah divonis mandul ketika orang tersebut pasrah, Allah menunjukan kebesaranNya.

Ketahuilah,
Sesungguhnya penyakit jahil/bodoh itu terbagi dalam empat macam.

satu dari empat macam tersebut akan menerima menerima pengobatan dan yang lainya tidak bisa menerima pengobatan,
menurut pandangan/tinjauan kita sebagai manusia.

Dari empat penyakit jahil/kebodohan yang tidak menerima pengobatan itu salah satunya yaitu,
Orang yang keberadaan pertanyaan/protesnya itu sumbernya dari irinya, hasadnya dan bencinya.
Yang bertanya bukan karena tidak tahu, ingin tahu atau meminta penjelasan tapi bertanya karena didasari iri dan protes karena benci.
Orang yang demikian maka setiap kali dijawab walaupun di jawab dengan sangat baik/sangat fasih dan sangat jelas,
tidak akan menambahkan/diterima kepada yang bertanya itu kecuali semakin benci, semakin memusuhi dan semakin iri.
Naudzubillah mindzalik...

Solusinya bagaiaman menghadapi orang seperti ini?

Kata Imam Al Ghazali,
"Jangan Sibuk Menjawab".
Kalaupun harus dijawab jawablah seperti jawaban Nabi ﷺ ketika ditanya malaikat, atau jawabanya Sahabat ketika ditanya Nabi ﷺ yaitu dengan jawaban,
"Tidaklah yang ditanya lebih 'Alim daripada yang bertanya".

Dikatakan oleh seorang penyair,
"Semua permusuhan terkadang diharapakan menghilangkanya,
kecuali permusuhan orang yang memusuhi dirimu karena sebab iri."
Karena permusuhan orang yang disebabkan iri tidak akan bisa dihilangkan kecuali jika yang membuat dia iri itu meninggal dunia.
dan untuk menghadapi orang seperti ini, hadapilah dengan prinsip "keberadaan/wujudnya dianggap tidak ada."

Maka seyogyanya kamu nerpaing darinya dan tinggalkan dironya beserta penyakitnya.

Allah berfirman dalam Sura AnNajm ayat 29,
"Maka tinggalkanlah orang yang nerpaling dari peringatan Kami, dan dia hanya menginginkan kehidupan dunia."

Sesungguhnya orang yang Hasad/iri itu apapun yang akan dia katakan maupun yang akan dia lakukan akan menyalakan api si dalam Tanaman Amalnya.

Sebagaimana Sabda Rasulullah ﷺ :
"Sesungguhnya Hasad itu akan memakan Kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."

Makanya,
menghadapi orang seperti ini sama saja menawarjan diri menjadi arang dan abu.

Wallahu'alam bishowab....

0 Response to "RINGKASAN KAJIAN HARI 16 - Kitab Ayyuhal Walad"

Poskan Komentar

wdcfawqafwef