RINGKASAN KAJIAN HARI 15 - Kitab Ayyuhal Walad

RINGKASAN KAJIAN HARI 15 Kitab "Ayyuhal Walad"
Oleh : KH.Muhammad Shoffar Mawardi Ma'had Daarul Muwahhid
 

Dan kau bertanya tentang ikhlas.
Ikhlas itu adalah bahwa amal-amalmu semua karena Allah untuk Allah dan dijalankan sesuai syariat Allah SWT. dan hatimu tidak senang dan tidak puas dengan pujian manusia dan tidak peduli dengan caci maki dan celaan manusia.

Lalu Bagaimana bisa muncul Riya'?

Riya lahir/timbul/terjadi dari mengagungkan makhluk, membesarkan kedudukan makhluk.

Riya menurut Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya 'Ulumuddin disebut sebagai Campuran-campuran.
yang artinya Ikhlas itu Murni, tapi jarang yang bisa ikhlas murni dan kebanyakan kena campuran-campuran,
oleh karena itu Imam Al Ghazali mengatakan,
"seandainya ada seseorang yang seumur hidupnya pernah ikhlas sekejap saja, maka dia selamat.
karena sulitnya membersihkan hati dari campuran-campuran."

Sedangkan Obat Riya itu adalah,
kamu lihat mereka manusia/makhluk sebagai orang-orang yang ditundukkan dibawah kekuasaan Allah SWT.
kamu sangka mereka itu sebagai benda mati, seperti : batu, kayu, tanah dsb.
didalam ketiadaan kemampuan mereka menyampaikan kesenangan/kesulitan, mereka digerakkan Allah SWT.
Dengan demikian,
kamu akan selamat dari riya jepada mereka,
maksudnya, "Masa ada yang mau riya kepada benda-benda mati?"

Kapan saja kamu menyangka mereka itu sebagai yang memiliki kekuasaan dan kehendak,
Maka Riya tidak akan pernah jauh darimu.

Wahai Anakku,
Sebagian dari masalah-masalahmu yang kamu tanyakan itu sudah ditulis dalam kitab-kitabku.
Carilah ia disana. dan ketahuilah bahwa penulisan sebagian masalah-masalah itu Haram.
ada masalah yang hukumnya haram ditulis karena itu bukan wilayah tulis-menulis atau perbincangan lisan,
tapi sudah masuk masalah lain.

Ada bagian-bagian ilmu yang bisa diperoleh bukan dengan cara bertanya atau membaca,
Tapi dengan mengamalkan ilmu yang sudah ada.

Amalkan apa yang sudah kamu ketahui supaya terbuka/terlihat bagimu apa yang belum kamu tahu.

Wahai Anakku,
Setelah hari ini, jangan bertanya lagi kepadaku apa yang masih samar padamu/apa yang tidsk jelas atasmu, atau apapun yang engkau belum tahu kecuali dengan lidah hati.
Maksudnya,
Bertanyanya bukan pake mulut tapi dengan hati.

Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 5,
"Dan sekiranya mereka sabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka, Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

maksudnya,
Sekiranya mereka para sahabat dan kaum muslimin sabar, tidak usah ketuk-ketuk pintu Rasulullah,
tidak usah nanya-nanya dulu ke Rasulullah,
mereka sabar saja hingga Rasulullah yang keluar dari ruanganya, kemudian mendatangi mereka di majelisnya kemudian menyampaikan apa yang oerlu disampaikan.
itu kebih baik bagi mereka.
apalagi di jaman Rasulullah, ketika sesuatu ditanya terus bisa turun wahyu yang tentu akan lebih memberatkan.
Maka ketika di jaman Rasulullah,
Yang belum ditentukan hukumnya jangan ditanya,
apa yang sudah turun wahyunya pahami kemudian amalkan.

Dan terimalah olehmu Nasehat Nabi khidir,
ketika Nabi Musa berniat berguru pada beliau.
Seperti yang terdapat dalam Surat Al Kahfi ayat 70,
"dia (nabi khidir) berkata: jika engkau mengikutiku maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku menerangkanya kepadamu!".

ada salah satu adab seorang pencari ilmu atau ketika berinteraksi dengan guru, yaitu jangan suka bertanya untuk sesuatu yang belum disebutkan apa maksudnya.

Sehingga Imam Al Ghazali berpesan,
Jangan kamu tergesa-gesa dalam meminta sampai kamu itu tiba pada waktunya,
yang pada waktu/masa itu sesuatu akan dibukakan untukmu, diperlihatkan kepadamu dan kamu akan melihatnya,
sebagaimana janji Allah SWT dalam Sura Al Anbiya ayat 37,
"Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa, kelak akan aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)Ku.
maka janganlah kamu meminta Aku menyegerakanya."

Kemudian Imam Ghazali juga mengatakan,
Jangan bertanya kepadaku sebelum waktunya, dan yakinlah bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sampai olehmu keciali dengan berjalan.

Karena dalam Firman Allah SWT Surat Muhammad ayat 10,
juga disebutkan,
"Maka apakah mereka tidak pernah mengadakan perjalanan dibumi sehingga dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka. Allah telah membinasakan mereka, dan bagi orang-orang kafir akan menerima (nasib) yang serupa ini."

Lalu ketika berjalan akan ada fenomena yang akan kita dapatkan.

Wahai Anakku,
Demi Allah, jika engkau berjalan maka engkau akan temukan/melihat keajaiban-keajaiban disetiap tempat persinggahan.

Dermakan/korbankan ruhmu, Sesungguhnya modalnya urusan ini adalah mendermakan/mengorbankan ruh,
Maksudnya,
Kalau kita mau dekat dengan Allah dan Rasulullah menjalani jalanya Allah dan Rasulullah bukan hanya badan tapi juga ruhnya harus dikorbankan.

Seperti yang disampaikan Dzunnun Al Mishri kepada muridnya,
"Jika kamu mendermakan ruhmu, kesini..!
kalau tidak jangan kamu sibukkan diri yang tidak bergunanya Sufiyah."

maksudnya,
orang yang mengamalkan amalan ahli sufi tapi cuma badanya jadi sesuatu yang tiada guna.
seperti, melakukan tari sufi ala Jalaluddin Rummi tapi tidak tahu maksudnya.
Sebaiknya amalkan yang kita tahu.

Wahai Anakku,
Sesungguhnya aku akan menasehatimu dengan delapan perkara,
terimalah delapan perkara itu dariku,
Supaya ilmumu gidak menjadi musuhmu pada hari kiamat.

dihari kiamat akan ada orang yang akan bermusuhan dengan ilmunya.
seperti, orang yang tahu ilmu syariat tapi dalam prakteknya malah justru menentang syariat.

Kamu amalkan yang empat dan kamu ringgalkan yang empat.

Empat perkara yang harus kamu tinggalkan itu yaitu,

1). Tidak membandingi/mendebat seseorang didalam permasalahan yang sebenarnya kamu mampu,
karena sesungguhnya didalam masalah-masalah yang seperti itu terdapat bahaya-bahaya yang bayak dosanya lebih besar daripada manfaatnya,
karena banding-membanding/debat-mendebat suatu masalah adalah sumber akhlak yag tercela,
karena disitu akan menumbuhkan riya, iri, sombong, dendam dan akhirnya permusuhan dan bangga-banggaan serta selainya itu.

Memang kalau terjadi suatu masalah diantara engkau/sdseorang/suatu kaum adalah kehendakmu dalam masalah itu adalah menampakan kebenaran.
kalau tidak diungkap, kebenaranya akan tertutup dan tidak akan menyia-nyiakan.
dan harus diperhitungkan apakah ada faedahnya ketika akan dibahas atau sama saja.
kalau memang upaya kita menampakan kebearan dimungkinkan bisa dan tidak menyia-nyiakan kebenaran itu boleh dibahas tapi kalau benar-benar itu maksudnya,
ada tanda-tandanya.

apa tanda-tandanya?
Simak di kajian hari berikutnya....

Wallahu'alam bishowab....

0 Response to "RINGKASAN KAJIAN HARI 15 - Kitab Ayyuhal Walad"

Poskan Komentar

wdcfawqafwef